Dekan FPIK Unsoed, Prof. Dr. Ir. Endang Hilmi, S.Hut., M.Si., IPU., ASEAN Eng. (tengah), hadir sebagai narasumber dalam Sesi 1 National SDG 14 Summit 2026 di Ruang Rapat BSM, Bappenas, Jakarta, bagi membincangkan status dan strategi pencapaian target SDG 14

JAKARTA, FPIK Unsoed – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menggelar forum tingkat tinggi National SDG 14 Summit 2026: Life Below Water pada Kamis (29/10/2026) bertempat di Ruang Rapat BSM, Kantor Bappenas, Jakarta. Forum ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk memperkuat aksi bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di seluruh Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan (multi-stakeholder), mulai dari kementerian/lembaga pemerintah, kalangan akademisi, organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, hingga mitra pembangunan internasional. Agenda utama summit ini berfokus pada evaluasi capaian Sustainable Development Goal (SDG) 14, penguatan strategi ekonomi biru (blue economy), serta penggalian peluang pembiayaan dan investasi berkelanjutan bagi berbagai inisiatif kelautan.

Peran Aktif FPIK Unsoed dalam Peta Jalan SDGs Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman (FPIK Unsoed) menunjukkan komitmen nyatanya dalam penguatan tata kelola kelautan nasional. Dekan FPIK Unsoed, Prof. Dr. Ir. Endang Hilmi, S.Hut., M.Si., IPU., ASEAN Eng., hadir secara langsung dan bertindak sebagai salah satu narasumber kunci pada Sesi 1 bertajuk "Status dan Strategi Pencapaian Target dan Dampak SDG 14". Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mewakili jajaran perguruan tinggi kelautan dan perikanan se-Indonesia dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Jenderal Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Kelautan dan Perikanan (FP2TKP).

Turut hadir memberikan arahan dan pandangan dalam forum ini di antaranya Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo, Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, serta United Nations Resident Coordinator Gita Sabharwal.

Identifikasi Isu Kritis dan Gap Pencapaian SDG 14

Dalam pemaparannya, dipaparkan sejumlah kondisi objektif, dinamika lapangan, serta tantangan mendasar yang masih dihadapi Indonesia dalam merealisasikan target SDG 14:

  1. Capaian Daerah dan Praktik Baik: Provinsi Sulawesi Selatan tercatat memiliki indeks capaian SDGs terbaik di Indonesia, yang dapat dijadikan model percontohan pengelolaan wilayah pesisir bagi daerah lain.
  2. Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial: Perlunya percepatan dan perbaikan tata kelola kawasan ekosistem esensial berbasis perlindungan keanekaragaman hayati laut.
  3. Kesenjangan Riset dan Integrasi Kurikulum: Masih terdapat gap antara fokus riset akademis dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang harus dicapai. Selain itu, karena SDG 14 belum sepenuhnya dijadikan indikator utama pencapaian di tingkat perguruan tinggi, pengajaran di kelas sebagian besar belum secara sistematis berbasis SDG 14 di dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
  4. Rendahnya Hilirisasi Riset: Tingkat pemanfaatan dan aplikasi riset kelautan oleh industri maupun masyarakat masih tergolong rendah, khususnya pada aspek komersialisasi dan hilirisasi produk/inovasi.
  5. Kesenjangan Informasi Wilayah Timur: Aksesibilitas dan penyebaran informasi penting mengenai tata kelola serta indikator SDG 14 di wilayah Indonesia Timur masih relatif rendah.
  6. Tantangan Sosio-Ekonomi Nelayan: Masih kentalnya sistem hubungan patron-client pada komunitas nelayan tradisional yang kerap membatasi kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.
  7. Degradasi Ekosistem Pesisir: Tingkat kerusakan ekosistem pesisir dan laut akibat aktivitas manusia serta perubahan iklim yang memerlukan penanganan terpadu.

8 Fondasi Kerangka Kerja tanpa Trade-Off

Untuk memastikan bahwa penerapan SDG 14 dapat berjalan secara optimal dan terukur tanpa mengorbankan sektor pembangunan lainnya (trade-off), diperlukan pembagian peran (kapling) yang jelas bagi setiap aktor (pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat) yang didasarkan pada 8 Fondasi Utama:

  • Basis Ekosistem (Ecosystem-based): Pendekatan tata kelola yang menjaga keutuhan fungsi dan daya dukung lingkungan.
  • Basis Aktor (Actor-based): Kejelasan peran, wewenang, dan kontribusi nyata dari setiap pemangku kepentingan.
  • Basis Produktivitas (Productivity-based): Peningkatan hasil kelautan yang berorientasi pada efisiensi dan nilai tambah.
  • Basis Capaian Ekonomi & Kesejahteraan (Wealthy & Economic achievement): Orientasi dampak nyata terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat pesisir.
  • Basis Alat & Teknologi (Tools & Technology-based): Pemanfaatan sains, modernisasi alat, dan inovasi teknologi ramah lingkungan.
  • Basis Keberlanjutan (Sustainability-based): Penjaminan bahwa pemanfaatan sumber daya hari ini tidak mengorbankan generasi mendatang.
  • Basis Pemantauan (Monitoring-based): Pengawasan berkesinambungan berbasis data yang akurat dan real-time.
  • Basis Berbagi Informasi (Sharing-based): Keterbukaan data, kolaborasi riset, dan pertukaran informasi antar-Lembaga.

Tiga Pilar Kunci SDG 14 dan Komitmen FPIK Unsoed

Di akhir sesi, ditekankan kembali 3 pilar utama yang menjadi pilar keberhasilan SDG 14, yaitu:

  1. Healthy Ecosystem (Ekosistem laut yang sehat dan lestari)
  2. Productivity (Produktivitas sektor kelautan dan perikanan yang tinggi)
  3. Wealthy (Masyarakat pesisir yang sejahtera dan mandiri)

Melalui partisipasi aktif dalam National SDG 14 Summit 2026 ini, FPIK Unsoed menegaskan komitmennya untuk berbenah internal dan berkontribusi secara nasional. FPIK Unsoed akan terus mendorong pembaruan kurikulum berbasis SDGs pada RPS, memperkuat kolaborasi riset lintas lembaga, serta mengakselerasi hilirisasi hasil riset agar berdampak langsung bagi ekologi dan perekonomian masyarakat pesisir Indonesia.

 

Humas FPIK Unsoed